Senin, 23 Maret 2009

Dulu Aktor Sinetron, Kini Juru Parkir...

Kamis, 19 Maret 2009 | 10:29 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Iwan Santosa

KOMPAS.com — Badan berotot sedikit bungkuk, perut buncit, kulit legam, dan gigi hancur karena narkoba. Nyaris tidak tersisa kegagahan seorang Andre,bukan nama asli, aktor sinetron tahun 1990-an yang menjadi korban kecanduan narkoba.

”Lumayanlah sekarang masih bisa dapat uang Rp 15.000, kalau jaga parkir malam hari saya sudah enam tahun lebih bersih (berhenti memakai narkoba) dan dapat terapi khusus,” kata Andre yang tinggal di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hampir setiap malam, pukul 20.00 hingga pukul 22.00, Andre mencari nafkah menjaga parkir di depan sebuah apotek di dekat rumah sakit milik TNI.

Hidup Andre bagaikan roller coaster yang naik dan turun secara drastis. Pernah merasakan hidup dengan wajah tampan, memiliki ayah pejabat penting sekaligus anggota parlemen, dan hidup ala orang tenar. Kini dia, seperti pengakuannya saat ditemui Kamis (26/2), nyaris menjadi sampah masyarakat....

Andre bersyukur tidak terjerumus lebih dalam, bahkan berakhir mati mengenaskan akibat narkoba. Ekstasi, putau, hingga sabu menemani Andre sejak medio tahun 1995. ”Teman kuliah saya di jurusan perhotelan sudah banyak yang meninggal. Ada juga yang meninggal overdosis di dalam kampus,” kata Andre.

Petaka narkoba menghampiri Andre di kampus, tetangga, dan dunia artis. Sekadar mencoba, jadilah dia ketagihan. ”Kalau enggak cicaw (menyuntik putau) atau ngedrag (mengisap sabu), rasanya enggak bisa apa-apa dan tidak mau hidup,” kata Andre.

Dia pun tersingkir dari dunia sinetron karena keadaan fisiknya semakin parah. Ayah Andre berusaha mencari jalan untuk merebut kembali putranya. Andre pun dikirim ke pelbagai lembaga pengobatan hingga pesantren.

Jalan berliku bagi seorang pecandu yang ingin sembuh. Jatuh bangun dialami, teman-teman lama selalu berusaha meracuni dia untuk kembali memakai narkoba. Saat saka -ketagihan narkoba - Andre tidak segan-segan menjual perkakas dan isi rumah. Pelbagai barang berharga milik ayah dan ibunya dijual di lapak pemulung tidak jauh dari rumah.

Terakhir sebelum akhirnya berhenti menggunakan narkoba tahun 2003, Andre sempat datang dalam sebuah pesta ulang tahun seorang bandar terkenal berinisial Aw. ”Seingat saya itu kali terakhir pakai narkoba. Untung bapak saya masih mau merawat saya,” kata Andre.

Andre mengaku, tiga adiknya menjadi ”orang”, berumah tangga, dan memiliki pekerjaan. Hanya dia seorang yang menjadi beban sang ayah yang hidup menduda. Kini, di usia yang baru masuk 35 tahun, fisiknya sudah layu. Rambut Andre beruban, kulit bersisik akibat penggunaan narkoba. Namun, sekali lagi, dia merasa beruntung bisa terlepas dari jeratan narkoba.

”Dulu dia ganteng dan gagah. Ke mana-mana berdandan dendi seperti aktor Hollywood. Badan tegap, kemeja flanel, celana jeans bermerek, dan gesper buckle mahal. Rambutnya panjang diikat ekor kuda seperti Steven Seagal. Sekarang ini siapa menyangka dia pernah bolak-balik main sinetron sebelum akhirnya kejeblos jadi pecandu narkoba. Sekarang malah jadi tukang parkir,” kata Djupri, tetangga Andre.

Narkoba memang mendatangkan laknat bagi manusia. Dalam hitungan Djupri, di lingkungan kelurahan dalam Kecamatan Tanah Abang, setidaknya ada 15 pemuda tewas karena narkoba.

Berita 2

Megawati Berkampanye dengan Panen Padi di Garut

enin, 23 Maret 2009 | 10:04 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Dewi Indriastuti

GARUT, KOMPAS.com — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan berkampanye sekaligus panen raya padi MSP di Desa Sukagalih, Garut, Jawa Barat, Senin (23/3).

Kampanye kali ini dalam rangkaian kampanye terbuka Pemilihan Umum Legsilatif 2009. Megawati selanjutnya akan ke lapangan di Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, untuk berkampanye.

Saat ini, Megawati sedang dalam perjalanan menuju Garut. Kampanye dan panen padi di Garut dijadwalkan pukul 11.00.



Hindari Kecurangan, Mega Minta Masyarakat Memantau

Minggu, 22 Maret 2009 | 18:02 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta agar pada 9 April mendatang, masyarakat membantu mencocokan hasil perolehan suara dengan daftar pemilih tetap (DPT) yang ada di setiap tempat pemungutan suara (TPS). Hal ini perlu dilakukan agar kasus manipulasi DPT seperti yang terjadi dalam pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Timur beberapa waktu lalu, tidak kembali terjadi.

"Dengan bantuan dari masyarakat ini, maka segala bentuk kecurangan diharapkan bisa terpantau lebih awal, mulai dari TPS," ujar Megawati, saat berorasi di Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (22/3). Dalam acara ini, turut hadir pula Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Bupati Magelang Singgih Sanyoto, dan Wali Kota Magelang Fahriyanto. Megawati sendiri didampingi oleh Ketua Badan Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo.

Untuk mendukung upaya tersebut, seluruh jajaran struktur kepengurusan PDI Perjuangan di daerah juga diinstruksikan berkeliling ke TPS-TPS. Jika memang nantinya masyarakat melaporkan adanya kecurangan, mereka nantinya akan melihat dan mengecek sejauh mana hal itu terjadi.

Megawati mengatakan, protes kerasnya terhadap pemerintah dan KPU, atas kecurangan yang terjadi pada pilgub Jawa Timur, tidak semata-mata karena ingin menjelek-jelekkan siapa pun. Namun, hal ini semata-mata dilakukan karena men ginginkan supaya sistem pemerintahan dibangun dengan proses yang benar dan jujur, sehingga pada akhirnya kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat juga dapat terwujud.

"Kita tidak mungkin mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, jika dalam proses memilih pemimpin saja, sudah dikotori dengan kecurangan," terangnya.

Megawati menerangkan, sistem pemilihan langsung dalam Pemilu memang baru dilaksanakan dua kali ini. Dengan begitu, segala kesulitan dan kekurangan dalam sistem baru ini, selayaknya dimaklumi.

Namun, kecurangan seperti yang terjadi pada pilgub Jawa Timur, jelas bukan hal yang bisa ditolerir lagi. "Pilgub Jawa Timur jelas merupakan ajang pemilihan yang sungguh-sungguh membodohi rakyat," terangnya.

Mengacu pada pengalaman buruk tersebut, Megawati meminta agar aturan dalam Pemilu semakin diperluas. Tidak hanya sekedar tentang tata cara memberikan hak suara, namun diharapkan diterbitkan pula aturan main agar pemilu dapat berlangsung jujur dan adil, tanpa ada kecurangan apa pun.

Selain itu, Megawati juga meminta kepada segenap masyarakat untuk tidak golput. Sebab, setiap suara sangat dibutuhkannya untuk kemenangan PDI Perjuangan dalam pemilu dan kemenangan dirinya menjadi presiden RI. (EGI/IDR)


Sore Ini, Megawati Melayat Sutradara Gintings

Minggu, 22 Maret 2009 | 15:33 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Dewi Indriastuti

CIAMIS, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri akhirnya memutuskan untuk melayat ke rumah fungsionaris PDI-P Sutradara Gintings yang meninggal dunia pada Minggu (22/3) dini hari. Rencananya, sore ini Megawati tiba di rumah duka.

Rencananya, Megawati hari Minggu sore ini ke Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, untuk bertemu dengan nelayan. Kemudian, melanjutkan kampanye ke Garut.

Namun, rencana berubah. Megawati terbang menggunakan pesawat carter jenis Cesna dari Yogyakarta ke Pangandaran. Ia turun sebentar dari pesawat, bertemu dengan keponakannya, Putri Guntur Soekarnoputra alias Puti yang menjadi calon anggota legislatif dari daerah pemilihan yang melingkupi Pangandaran.

Ia sempat bersalaman juga dengan beberapa nelayan. Kemudian, pesawat yang membawanya terbang menuju Halim Perdakusuma, Jakarta, sekitar pukul 15.00.

Berita 1

PSK Dipulangkan demi Pemilu?
tpgimages
ilustrasi PSK
/

Senin, 23 Maret 2009 | 19:52 WIB

SALATIGA, KOMPAS.com — Hak suara untuk memilih dalam Pemilihan Umum 9 April mendatang adalah milik semua warga negara, apa pun pekerjaan yang mereka jalani. Termasuk para pekerja seks komersial di Lokasi Pariwisata Sarirejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, yang lebih dikenal sebagai Lokalisasi Sembir.

Karena sebagian besar PSK atau wanita binaan ternyata masih tercatat sebagai penduduk kampungnya masing-masing, mereka umumnya akan pulang atau dipulangkan agar bisa menggunakan hak pilihnya.

"Memberi kesempatan wanita binaan untuk pulang ke kampung halaman masing-masing untuk ikut pemilu sudah jadi kesepakatan umum para pemilik tempat karaoke. Namun, hal ini tidak dipaksakan kepada setiap wanita binaan," kata Ketua RW 9 Sarirejo Sri Winarni, seusai Sosialisasi Pemilu di Sarirejo oleh KPU Salatiga, Senin (23/3).

Menurut dia, dari 240 wanita binaan di lokalisasi itu hanya 15 persen yang punya hak pilih di Salatiga. Sisanya, terdaftar di kampungnya masing-masing.

Berita

Mega: Daya Beli dinakikkan, Bukan Harga Dinaikturunkan
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Megawati Soekarnoputri
/
Senin, 23 Maret 2009 | 20:28 WIB



GARUT, KOMPAS.com- Banyak pihak yang salah mengartikan iklan sembako murah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di televisi. Sehingga, seolah-olah PDI-P mengobral janji menurunkan harga-harga kebutuhan pokok.

Demikian diungkapkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri saat berkampanye sekaligus panen padi jenis MSP di Kampung Cirendang, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (23/3).

"Banyak yang salah mengartikan iklan sembako murah itu. Sepertinya PDIP obral janji. Maksud murah di situ adalah dapat dibeli oleh masyarakat. Jadi daya beli masyarakat yang harus ditingkatkan, bukan harga yang dinaik-turunkan. Itulah maksud iklan sembako murah," kata Megawati.

Misalnya, meskipun harga beras Rp 6.000 tetapi jika daya beli masyarakat mencapai Rp 50.000 maka akan terjangkau. Sebaliknya, apabila harga beras Rp 6.000 sementara daya beli masyarakat hanya sampai Rp 3.000 maka tidak akan terjangkau.

Megawati juga menambahkan, ketika dulu ia menjabat sebagai presiden harga-harga kebutuhan pokok murah. Keberhasilan inilah yang seharusnya disosialisasikan oleh kader PDIP kepada masyarakat.

akhirnya....caleg bicara juga

Jumat, 13 Maret 2009